Kebersamaan Mahasiswa Teologia di BelitungGEPEKRIS dimulai dari misionaris yang diutus dari Tiongkok, yang giat memberitakan berita Injil ke berbagai pelosok daerah. Pada mulanya berawal misionaris dari inggris yang bernama Pdt. Marison (1807-1929) selama 120 tahun di Tiongkok, umat Kristen di tiongkok berjumlah 1 juta, tetapi selama masa ini tidak ada satu pun misionaris yang diutus dari Tiongkok untuk memberitakan injil. Suatu ketika Ketua The Alliance Seminary Kuang Tsi yaitu Pdt. Dr. R.A. Jaffray mendapat visi pekabaran injil dari Tuhan.  Sehingga pada tahun 1928 Pdt, Jaffray bersama rekan-rekan mengadakan penelitian  penginjilan selama satu tahun. Mereka melewati pulau jajahan Inggris dan melewati wilayah Indonesia, yaitu; Tarakan, Balikpapan, Samarinda, Makasar, Belitung, Bangka, dan sebagainya.
Setelah kembali dari survei, mereka sepakat untuk mendirikan satu organisasi misi tionghoa. Dan menyerukan kepada orang tiongkok untuk menunaikan tanggungjawab penginjilan ke luar tiongkok. Karena mereka menemukan banyak orang tionghoa yang berdiam di daerah tersebut, namun tidak ada satupun gereja tionghoa. Pada masa itu, banyak orang tiongkok mengemban tugas penginjilan ke berbagai bangsa. Maka pada Tahun 1929 Pdt. Jaffray mengundang beberapa pemimpin  gereja tiongkok, yaitu: Dr. Leland Wang, Pdt. Tzau Liu Thang, Pdt. Hwang Yen Tsu, Pdt. Liang Tsie Kau, Pdt. Wu Ci Hwa, Dr. William C Newbern D.D dan Pdt. Wilson Wang membentuk zending Injil Tiongkok yang pertama dan menetapkan nama CFMU ((Chinese Foreign Missionary Union), pada tanggal 26 Maret 1929 berkedudukan di Ik Chou, Kwang Si, yang di ketuai oleh Pdt. Leland Wang, yang kemudian mengutus misionaris dari tiongkok keluar negeri untuk mengabarkan injil. Lingkup penginjilan CFMU semakin luas ke berbagai bangsa dan daerah, sehingga kantor lembaga misi CFMU dari propinsi Kwang Si di pindahkan ke Hongkong.  Perkembangan selanjutnya ada beberapa periode, yakni:

Periode Pembukaan Ladang Pelayanan (1929-1941)
Pada awal berdiri CFMU, anggotanya di dukung berasal dari alumni sekolah Alkitab Cien Tau. Termasuk C.Y. Wong tahun 1935 bersama istri di utus ke Pulau Bangka dan Belitung untuk mengabarkan Injil. Wong melayani di berbagai daerah, seperti; Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan, dll. Beliau berhasil membuka beberapa gereja kecil namun gereja-gereja masih dalam keadaan lemah dan belum bisa mandiri. Pada tahun 1941 terjadi perang pasifik, sehingga pelayanan CFMU terhenti. Pada masa perang ini pelayanan tidak dapat berkembang dan keadaan ekonomi sangat sulit, bahkan pada masa perang ini Pdt. Jaffray tertangkap, dan tahun 1945 meninggal dunia di kamp penampungan. Sehingga para pemimpin misi CFMU menjadi tercerai- berai, komunikasi terputus, anggota-anggota seperti domba tidak bergembala. Pusat lembaga misi di Hongkong hampir dibubarkan, semua dukungan finansial dan komunikasi terhenti. Kemudian setelah perang berakhir, pelayanan penginjilan CFMU mulai digalakkan kembali.

Periode Pembekuan (1942-1945)
Dalam masa peperangan 3 tahun 8 bulan, zending hanya dapat melindungi diri dan bertahan, tidak dapat mengembangkan pelayanan yang baru. Gereja-geraja yang didirikan belum bisa berdiri sendiri, tidak mampu mendukung finansial. Maka, masing-masing berjuang secara otonom dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup, tanpa bantuan dari pihak manapun. Mengabarkan injil sambil berusaha bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Periode Kebangunan (1945-1972)
Setelah perang, Ketua CFMU Leland Wong meneruskan pelayanan misi dan menghubungi beberapa rekan pelayanan, termasuk yang ada di Vitenam dan Malaysia. Pada periode ini, pusat misi di tetapkan di kota Surabaya. Melalui kerjasama beberapa rekan, misi pelayanan mengalami perkembangan. Hingga tahun 1971 lembaga misi CFMU telah mendirikan lebih dari dua puluh gereja, dengan anggota jemaat puluhan ribu orang .

Periode Pendewasaan dan Perpecahan (1972-1998)
Pelayanan misi semakin berkembang, dan akhir tahun 1972 CFMU menerima satu perintah dari Bimas Kristen Pusat untuk menggantikan nama CFMU. Oleh karena badan misi CFMU telah memiliki lebih dari tiga puluh gereja besar dan kecil, yang jumlahnya mencapai puluhan ribu anggota jemaat. Maka, Januari 1973 seluruh pengurus CFMU mengadakan pertemuan yang membahas nama CFMU, yang kemudian di ganti menjadi Gereja Persekutun  Kristen. Sejak saat itu CFMU mengakhiri pelayanan misi di Indonesia. Gereja-gereja melaksanakan semua tugas dengan jemaat masing-masing yang bersifat mandiri dan otonom. Jemaat lokal bekerjasama secara aktif dan bertekad untuk mengembangkan pelayanan. Kantor pusat sinode ditetapkan di Jakarta dan gereja Persekutuan Kristen semakin berkembang. Pada tahun yang sama Mei 1973 para wakil dari Surabaya, Ujung Pandang, Sidoarjo, Kalimantan, dll (anggota Ex. CFMU) mengadakan pertemuan di Surabaya, pertemuan itu menghasilkan keputusan; membentuk sinode Gereja Kebangunan Kalam Allah (GKKA), Maka, anggota Ex. CFMU menjadi dua sinode. Kemudian masing-masing sinode semakin berkembang, tahun 1976 berdirilah sekolah Alkitab di Pangkal Pinang yang bernama Institut Alkitab Persekutuan Kristen, dan menghasilkan banyak para hamba Tuhan, namun sangat disayangkan institusi ini terhenti karena kekurangan SDM dan Dana.
Seiring perjalanan waktu, pada akhir tahun 1988 jemaat Gepekris di Samarinda memisahkan diri dan membentuk sinode tersendiri dan di sahkan pada tahun 1990. Maka, berdirilah sinode Gereja Persekutuan Misi Injil Indonesia. Dengan demikian, gereja yang didirikan badan Misi CFMU menjadi tiga sinode: GEPEKRIS, GKKA dan GPMII. Meskipun terbagi menjadi tiga sinode, hubungan antara Sinode masih erat bahkan seringkali diadakan pertemuan bersama. Sebagai dampak dari perpecahan, sinode Gepekris hingga tahun 1999 hanya terbagi menjadi delapan belas gereja yang tersebar di beberapa daerah. Dan sekarang, anggota sinode GEPEKRIS berkembang menjadi dua puluh delapan gereja, yang terdiri dari 22 jemaat mandiri dan 6 TPI (Pembinaan Iman).